Surat Cinta Untuk Zayed

Nak, tahukah kamu kerinduan yang sangat menyiksa ayah selama ini? Ia adalah kerinduan seorang ayah terhadap anaknya. Ya, kerinduan terhadap kamu yang datang pada malam yang hening, atau pagi yang suram. Bagaimana ayah lupa, bersamamu, kita bisa bahagia. Menertawakan keadaan. Mensyukuri semua dengan nikmat.

Semua pengorbanan, semua yang ayah lakukan selama ini, tentu saja buat kebahagiaanmu dan bunda disana. Setiap keringat yang keluar, hingga air mata yang jatuh, dan dalam sudut malam hening yang menenggelamkan dalam kegelisahan, hanya namamu yang ayah sebut. Ya, kaulah penyemangat sekaligus alasan ayah.

Mungkin banyak orang yang menilai ayah lebay, tapi percayalah setiap menulis akan kamu, menumpahkan kerinduan pada kata, saat itulah ayah kembali kuat. Kembali tegar memanggul hari. Ayah cuma ingin belajar menjadi orang yang bertanggung jawab. Bertanggung jawab kepada kamu dan keluarga kecil kita.

Nak, menjadi seorang laki-laki apalagi sudah menyandang gelar ayah, tidak mudah. Kelak, saat kamu dewasa ingat pesan ayah ini, jadilah seseorang yang bertanggung jawab, seberat apapun itu. “Boleh menangis kalau sudah dewasa?” Tentu saja nak, ayah kadang juga menangis, namun jadikan tangisan itu sebuah lagu untuk pengharapan. Jadikan setiap tetes air mata itu sebuah sungai yang kembali menyejukkan relung hatimu. Kamu pun boleh juga bersedih, tapi jadikan kesedihan itu sebagai kesediaan dan kesiapan untuk kembali berjuang. Serahkan pada waktu yang maha penyembuh.

Ayah ingat semasa kecil. Bagaimana kakek kamu dulu, dalam keterbatasannya tetap berusaha membahagiakan ayah dan nenekmu. Sama seperti kamu saat ini, dulu ayahku atau kakek kamu datang kerumah sebulan sekali. Sebagai penyandang seorang difable tentu saja butuh perjuangan yang besar, untuk mengunjungiku. Bagaimana pengorbanan itu ditantangnya hanya untuk memegang dan melihat anak semata wayangnya. Tanpa ada kata-kata kerinduan yang keluar dari mulutnya. Tapi ayah tahu, betapa merindunya kakekmu dulu terhadap anaknya.

Kerinduan dan sebuah penyesalan karena belum bisa memberikan sesuatu yang lebih untuk anaknya. Nak, disinilah ayah suka menangis sendiri. Kerinduan ayah terhadapmu sama besarnya kerinduan ayah terhadap kakekmu. Ayah terakhir jumpa dengan kakekmu, hampir dua tahun yang lalu. Hingga saat ini, hanya doa yang terus aku bisikkan ke bumi untuk kesehatan dan umur panjang ayah, kakekmu di Magetan sana. Dan ayah sangat bahagia, ternyata di rumah pun kamu ikut ngaji dan ikut sholat bareng bunda. Semoga ada nama ayah dan kakekmu ada dalam doamu.

Tak ada yang salah menulis tentang kerinduan. Dalam banyak hal kerinduan menghasilkan energi yang positif, lebih baik dari pada kamu menuliskan kebencian terhadap orang lain. Kerinduan selalu menjadi sumber inspirasi banyak orang. Dan ketahuilah, melalui kerinduan ini, ayah kembali bisa bangkit, setelah didera banyak kekalahan dalam perjuangan.

Ayah juga bersyukur kala membaca tulisan-tulisan bunda kamu, tentang kamu disana. Baik, ayah akui tulisan bunda di blognya kalin.my.id semakin hari rasanya semakin baik, dan itu juga membuat ayah selalu ingin membacanya tiap hari. Membacanya, seperti membacai kalian. Menghadirkan energi yang besar dalam diri ayah. Ternyata kerinduan kalian terhadap aku sama besarnya kerinduan ayah kepada kalian.

Satu hal harapan ayah, semoga kita kembali berkumpul lagi. Hingga kerinduan tuntas, dan kembali lebih berbahagia. Karena sampai saat ini pun, dalam kondisi apapun ayah bahagia memiliki kalian.

Salam peluk dari Ayah…

Leave a Reply