Cinta Dalam Sepotong Roti

Jika saya diminta untuk menilai tingkat kerajinan dalam diri sendiri, maka dengan bangga saya memberikan angka 5. Yes, saya ada ditingkatan tengah. Rajin enggak, malas juga enggak. Itu sebabnya setiap pagi saya selalu bangun dengan kesiangan tapi teteup nyempetin waktu buat ndusel-ndusel anak laki-laki kesayangan satu-satunya yang saya miliki. Teteup acara cium-cium keti bau hasyeum gak boleh terlewatkan, meski setelah itu harus berpacu dengan detik-detik menuju jam 08.00 WIB pagi teng masuk sekolah.

Untuk sarapan bocah biasanya saya memilih yang simpel seperti roti dan susu, atau nasi telor ceplok kecap sudah. Adalah prestasi jika pagi saya bisa menyalakan kompor untuk masak selain telor ceplok atau sekedar goreng nugget dan sosis untuk Zayed.

Bagaimana kopinya?

O’hooo.. Bagi saya pecinta kopi KW 12, minum kopi adalah hal yang sangat bisa ditunda sampai mood-nya datang. Haha. Ya, saya tidak seperti Pak Suami yang mengawali rutinitas pagi dengan secangkir kopi hitam. Acara ngopi bagi saya lebih asyik ketika malam hari sambil menatap laptop dan ditemani beberapa camilan. Penting itu. Lol.

Pagi tadi seperti pagi lainnya, Zayed sarapan dengan selembar roti coklat dan sekotak susu. Kemudian kami berangkat ke sekolah. Karena nafsu makan Zayed sedang bagus-bagusnya, saya membawa beberapa lembar roti dan dua kotak susu untuk bekal. Ohya, sampai saat ini saya masih belum bisa memperbolehkan Zayed jajan sembarangan. Susah banget sih sebenarnya, kami tinggal di kampung bisa yang masyarakatnya masih sangat awam dengan makanan yang bisa membawa dampak buruk bagi kesehatan anak.

Saya sering sekali mendapat cibiran atas pilihan tidak membiarkan Zayed jajan sembarangan. “Punya anak kok ndak boleh ini ndak boleh itu, ndak boleh makan ini makan itu. Mbok diloskan saja, biar kebal. Ditahan-tahan gitu malah ringkih, pantesan badannya kecil”. Yak, sebagai mamah muda yang masih awam saya sepenuhnya marah dong ya. Tapi karena saya baik hati, jadi saya cuma bisa senyum-senyum aja. Keep calm gitu.

Tidak sepenuhnya saya diam kok, sesekali saya juga menjelaskan betapa jajanan anak yang tampak cerah warna-warni yang menarik hati itu sejatinya mengandung zat kimia yang berbahaya bagi anak. Big no banget dalam kamus saya untuk membiarkan Zayed jajan minuman kemasan yang dijual seribu dua ribu, oh no… Pemanisnya ituh…

Saya bukan ahli gizi, saya tidak bisa menjelaskan panjang kali lebar zat yang terkandung dalam jajanan yang dapat membahayakan kesehatan anak. Oleh karena itu, saya berharap besar bahwa akan ada suatu kegiatan semacam penyuluhan tentang gizi anak di desa kami, mungkin saat POSYANDU yang dilakukan sebulan sekali. Sayangnya sampai saat ini saya belum tau bagaimana cara untuk mengajukan kegiatan penyuluhan tentang gizi dan peringatan bahayanya jajanan anak yang tidak terdaftar BPOM.

Setidaknya saya memulai dari diri sendiri dan membujuk teman-teman saya untuk membawa bekal ke sekolah. Lebih sehat tentunya. Alhamdulillah, saat ini saya dan teman-teman satu per satu ikut membawa bekal ke sekolah. Kerincing tanda istirahat telah berbunyi, Zayed keluar kelas dan menuju kepada saya.

Saya : “Haus Nak?”

Zayed : “Iya”

Saya : “Ni susu sama rotinya, dihabiskan ya?”

Zayed : “Kalau diabisin, cepet gede ya?”

Saya : “Iya dong, kan udah mau 6th”

Zayed bergabung dengan tiga teman perempuannya. Xixixi di sekolah Zayed memang lebih banyak perempuan. Saya sengaja tidak menyuruh Zayed untuk berbagi roti untuk teman-temannya. Kadang saya perlu mengambil sikap seperti itu untuk melihat seberapa peka Zayed terhadap sekitarnya. Saya ingin tau seberapa jauh pelajaran berbagi menyerap dalam ingatannya.

Saya patut berbangga dengan pemandangan yang ada dihadapan kali ini. Zayed membuka kotak bekalnya, mengambil selembar roti dan membaginya menjadi empat bagian. Zayed berbagi dengan temannya. Alhamdulillah, kamu memiliki hati yang baik Nak, Bunda bangga. Mereka menghabiskan bagian roti masing-masing dan dilanjutkan dengan lembaran-lembaran roti lainnya.

Melihat Zayed berbagi seperti tadi sangat menyentuh hati saya. Bagi saya, melihat kebaikan hati anak adalah bahagia yang tidak dapat ditukar dengan apapun. Bahagia dengan cinta yang penuh akan kebanggaan. Bersyukur atas pemberian Gusti, malaikat kecil tak bersayap yang selalu mengajarkan tentang kehidupan dengan caranya sendiri..

Untuk Zayed bahagianya Bunda,

Kelak besar nanti Nak, tetaplah menjadi manusia penuh kasih. Bijaklah dalam setiap keputusan. Ikhlas dalam setiap keadaan. Tetap taat dalam ajaran Gusti, tetap tersenyum dan menjadi terang bagi sesama. Semoga dunia ramah kepadamu Nak. Bunda bangga.

Penuh cinta untukmu selalu…

Leave a Reply