Perempuan adalah Kehidupan

“Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus dimengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahamim pemahaman yang tulus.” Tere Liye

Saya bukan fans berat Tere Liye, namun quote diatas adalah salah satu quote yang paling saya gemari dan selalu bisa men-charge semangat saya untuk kembali menerima hidup dengan apa adanya. Hidup memang tak pernah mudah, saya kecil tumbuh dan berkembang dengan aturan-aturan kolot yang sangat mengekang.

Orang tua saya bercerai tepat saat saya berusia 18 bulan. Sejak saat itu saya tinggal dan dibesarkan oleh Bapak, kemudian Bapak menikah dengan perempuan yang saya panggil Ibu saat usia saya 4th. Seperti kebanyakan kisah Ibu tiri yang kejam, kehidupan yang saya alami pun sama. Banyak sekali kekerasan, ancaman dan caci maki yang saya alami. Sampai saat ini saya masih ingat bagaimana perlakuan keluarga yang sangat memberikan trauma yang mendalam.

“Bapakmu dimana?”

Ada sih, tapi Bapak termasuk dalam ikatan SSTI (suami-suami takut istri), LOL.

“Kekerasan macam apa sih Lin?”

Banyak. Seperti pukulan, tamparan dan cubitan. Tunggu dulu, saya mendapatkan semua itu bukan karena saya bandel ya. Ibu menghadiahkan tangan yang panas itu saat saya mencuci bajunya kurang bersih, saat saya masak keasinan, saat saya bangun kesiangan (jam 5 pagi) dan saat nilai saya buruk disekolah, bikin malu katanya.

Ibu dan Bapak punya usaha warung sembako. Setiap pagi Ibu menjual sarapan, nasi uduk dan lontong sayur. Saya kecil, dipaksa bangun jam 4 pagi untuk bersiap masak sampai jualan Ibu habis di warung. Setelah itu saya mencuci piring, nyapu, ngepel seisi rumah. Lanjut mencuci baju atau menyetrika baju seluruh penghuni rumah. FYI, saya tinggal bersama Bapak, Ibu, adik dan 4 adik Ibu yang masih bersekolah, kebayangkan banyaknya baju dan peralatan makan dalam sehari?

Saya selalu ambil sekolah siang, karena pagi hari selalu habis dengan seabrek pekerjaan rumah tangga. Masuk kelas pukul 13.00 WIB dan pulang pukul 17.00 WIB. Pulang sekolah selalu petang, dilanjut dengan nyuci piring, siapin makan malam dan iris-iris sayuran untuk masak besok pagi. Pukul 21.00 WIB tugas saya selesai dan tidur, tidak ada senda gurau keluarga malam hari, tidak ada menonton TV dan tak ada belaian sebelum tidur. Terus saja berulang setiap harinya tanpa protes.

Memang, nampak biasa saja. Namun perlakuan Ibu sangat beda antara saya dan adik. Saya tidak pernah diperbolehkan main keluar seperti kebanyakan anak lain. Saya tidak diperbolehkan untuk sekedar les. Tak ada panggilan “Nak” atau “Sayang” yang saya terima. Bahkan ada tamu berkunjung sekalipun Ibu tetap menggil saya dengan “Bo…” yang berarti “Kebo/kerbau”. Saya selalu melewati hari dengan ketakutan. Nyapu kurang bersih “plak”, masak kurang asin “plak” dan plak plak lainnya.

“Kok gak kabur aja Lin, atau laporin ke siapa kek gitu?”

Haha. Jangankan buat laporan, untuk cerita ke saudara saja saya ndak berani. Anak kecil yang tidak pernah tahu kehidupan luar rumah bisa apa? Sekolah adalah satu-satunya penghiburan saya saat itu. Hanya di sekolah saya sedikit merasakan kasih sayang dari guru dan teman sebangku. Di sekolah, saya menjadi pribadi yang berbeda, juara kelas selalu membuat saya merasa percaya diri untuk bergaul. Saya hanya berfikir, saya harus pintar untuk punya teman.

Saya kecil, selalu ingin jadi yang terbaik. Bukan karena jiwa kompetisi yang tinggi, tapi karena hanya dengan menjadi yang terbaiklah saya aman dari segala macam cacian dan kekerasan. Sayangnya, menjadi terbaik tidak pernah cukup untuk saya mendapatkan sekedar pelukan hangat dan ucapan kebanggaan Bapak Ibu memiliki anak berprestasi. Miris.

“Masih ingat cerita Angeline yang hilang dan diketemukan tewas beberapa tahun silam?”

Kisah Angeline adalah salah satu kasus kekerasan anak yang terungkap media. Saya yakin sekali masih banyak kisah pilu yang dialami anak-anak korban perceraian orang tua yang tidak terekspos media seperti saya. Banyak syukur saya panjatkan pada Gusti karena sampai saat ini saya masih diberikan kesempatan untuk hidup dan melihat dunia.

“Saat bercerai, mereka bebas dari segala masalah. Lepas dan bebas. Terus apa kabar kami? Anak? Tau gak kalau efeknya itu ditanggung seumur hidup?”

Ya, memang traumanya sepanjang hidup masih membekas. Saya tidak pukul rata anak “Broken Home” itu trauma ya, karena saya yakin masih banyak diluar sana anak yang tetap bahagia dan tidak trauma sama sekali.

“Gak semua Ibu tiri kejam kali Lin...”

Ya, saya tau banget. Diluar sana banyak sekali Ibu tiri yang sayang dan menganggap anak tirinya seperti anak kandung sendiri. Beruntunglah. Tapi tidak semua orang seberuntung itu kan?

Apapun yang terjadi, saya tetap bersyukur pada Gusti. Ambil yang baiknya aja, yang buruknya buang ke laut, xixi. Positifnya saya sekarang jadi sedikit jago masak. Perut suami dan anak kenyang dengan makanan olahan tangan saya sendiri. Pekerjaan rumah tangga menjadi bagian biasa yang tak terpisahkan. Cil nget’lah. Saya ingin seluruh dunia tau bahwa saya tetap mengasihi Bapak, Ibu serta adik sampai saat ini.

Berawal dari merekalah saya belajar bahwa hidup adalah tentang bertahan. Hidup tak pernah ada yang mudah. Hidup adalah perjalanan untuk mendapatkan yang terbaik. Dan dari mereka saya juga belajar untuk menghargai apapun yang terjadi, sekecil apapun itu. Menganggap ada dan memperlakukan orang lain sebagaimana saya ingin diperlakukan. Pak, Ides tetap sayang Bapak sampai kapanpun.

“Perempuan adalah kehidupan”

Bagi saya, perempuan adalah peran penting dalam kehidupan. Perempuan yang telah menyandang status istri bahkan Ibu adalah faktor penting dalam masa yang akan datang. Perempuan harus memiliki welas asih, kasih sayang dan kebajikan.

Saya selalu berfikir, kelak suatu saat saya memiliki kehidupan sendiri bersama suami dan anak, apapun yang terjadi ditengah cobaan sepelik apapun saya akan bertahan untuk menjauhi perceraian. Saya selalu ingat luka dan kesakitan yang saya alami saat masih kecil. Meski tak mudah.

Saat ini saya sudah berstatus istri hampir 6th lamanya dan menyandang gelar Bunda dari anak lelaki 5th. Sifat keras seperti membentak masih terus terbawa, meski saya coba untuk terus ingat, kekerasan itu gak baik, kasian anaknya. Tapi gimana lagi, sepertinya saya memang butuh konsultasi ke psikolog untuk menghilangkan trauma.

“Anak-anakmu akan melihat siapa dirimu melalui tingkah lakumu dari pada nasehatmu” Wayne Dyer

Saya mencintai suami dan anak melebihi apapun yang ada di dunia. Berusaha untuk tetap bertahan meski masalah terus datang. Belajar untuk menghargai keputusan, memberikan pujian terhadap hal-hal kecil meski sederhana. Saya ingin memiliki keluarga yang utuh agar anak saya penuh dengan kasih sayang. Tak ada trauma dan ketakutan. Saya ingin dia memiliki kehidupan yang bebas tapi tetap pada aturan dan tidak merugikan orang lain.

Bagi siapapun yang membaca tulisan ini dan kebetulan memiliki anak tiri, tolong banget, mohon dengan sangat sayangilah mereka seperti anak kandung kalian sendiri. Mereka tetap seorang anak yang butuh kasih sayang untuk bertahan hidup. Mereka merindukan Ibu kandungnya melebihi apapun di dunia, mereka membutuhkanmu untuk mengobati luka dan kerinduan kepada sosok Ibu yang sesungguhnya.

Percayalah, karena seorang anak yang tumbuh dengan kasih sayang akan hidup hidup lebih baik. Kami sebagai anak tiri, jika diberikan kasih sayang layaknya anak kandung maka kami juga akan menganggap kalian sebagai Ibu kandung sendiri.

No Love is Greater than Mom’s Love. No Care is Greater than Dad’s Care

Untuk perempuan yang sedang bertahan untuk proses perceraian, percayalah keputusan kalian untuk mempertahankan rumah tangga adalah benar, dan berdoalah pada Gusti supaya memberikan kehidupan yang lebih baik lagi. Tidak ada yang paling dibutuhkan dari seorang anak selain cinta dari Ibu dan perhatian dari Ayahnya. Keluarga yang utuh, kasih sayang yang penuh adalah bekal terbaik dalam menghadapi kehidupannya kelak.

No hurt feeling ya. Apa yang saya tuliskan diatas bukan untuk menyinggung pihak manapun. Tulisan diatas adalah benar yang saya alami sebagai salah satu contoh dari banyak macam kekerasaan yang diterima anak broken home baik lahir maupun batin. Kasus kekerasan anak yang saya alami, mungkin saja terjadi disekitar lingkungan kita saat ini. Saya berharap lebih banyak lagi yang peduli terhadap kekerasan pada anak agar seluruh anak-anak di muka bumi ini dapat hidup lebih baik dan terbebas dari trauma.

Tulisan ini saya ikutkan dalam giveaway ruang baca dan tulis dengan tema perempuan. Meski sederhana, saya merasa harus banyak perempuan yang tau dan sadar bahwa ditangan perempuanlah kehidupan dimulai, dan Ibu adalah faktor penting dalam kehidupan anak-anaknya kelak.

2 Comments

  1. Sundari

    April 16, 2017 at 2:01 am

    Mba, its hard to believe ya about your past, anyway. Very beautiful writing, Perempuan Adalah Kehidupan.

    1. kalin

      April 16, 2017 at 1:03 pm

      Makasih Ya Mba Sundari, salam kenal ^_^
      Begitulah kisah saya waktu kecil. Jadi sampai saat ini pun, setiap ada teman atau saudara yang sedang menghadapi perceraian saya selalu berusaha mengingatkan bahwa masih ada anak-anak yang harus menjadi faktor utama. Percayalah, tak ada yang mudah untuk anak korban perceraian, sedikit atau banyak pasti meninggalkan trauma. hehe.

Leave a Reply