Untuk Perempuanku, Kenanglah Dia, dan Aku Akan Tetap Tersenyum…

Malam di penghujung. Tanggal berganti. Detik bergulir. Semua berubah, termasuk musim itu. Daun jatuh, berguguran. Layu. Mengering. Semua berbeda, termasuk hari-hari kita. Tapi, tidak dengan cinta ku.

Entah, kenapa hari ini, aku merasa malam yang begitu gelap. Tak ada setitik cahaya, dan fajar begitu lambat datang. Jarum jam berdetak, dengan sangat renta dan terdengar hampir putus asa. Namun, percayalah, masih kusimpan sedikit pijar, untuk kamu melangkah nanti.

Masih beraroma cemara di rambutmu, aroma yang sama sejak 9 tahun lalu aku mengenalmu. Senyummu terasa hangat, dan kecupanmu pun menguatkan seperti dulu. Meskipun kamu tahu, ada bayang-bayang tanpa wujud yang mengisi sudut hatimu yang lain.

Bayang-bayang yang datang entah dari mana, mungkin dari masa lalu kamu yang tiba-tiba turun bersama hujan musim ini. Tapi, percayalah, aku tak keberatan. Karena aku tahu, aku tak akan bisa melawan dia dan menyingkirkannya. Dia sudah kekal disana, sejak kamu mulai mencintaiku, atau mungkin sebelum aku datang.

Untuk kamu perempuanku, jangan pernah padamkan bahagia itu. Kamu benar, rasa cemburu ini, sebenarnya untuk apa? Toh dia hanyalah sebuah bayangan. Dan aku pun merasa sudah kamu miliki utuh.

Untuk kamu perempuanku, kamu tahu, aku yang salah, karena terus-terusan terbakar cemburu. Terus-terusan baper hingga membuat kewarasan kita hampir tercerabut. Membuat sekat depresi yang semakin tipis.

Jika aku mencintai kamu perempuanku? Kenapa pula aku bisa membuatmu begitu sedih, terkekang, terpenjara dan marah.

Kamu pastinya akan bilang, “memang tidak cukup perhatianku selama ini?” atau “Seberapa banyak lagi sms atau WA, aku cinta kamu? Biar kamu mengerti!” Tidak sayang, tidak, akulah yang selama ini salah.

Ya, aku harusnya membeli sebuah cermin yang besar dan memandang bayanganku sendiri di dalamnya. Bukankah, selama ini kamu sudah banyak membuatkku bahagia? Seharusnya itu sudah lebih dari cukup? Lalu, kenapa salah, jika bersama bayang-bayang itu kamu bisa merasa bahagia. Perempuanku, tengelamkan rasa sakit yang sudah aku berikan selama ini dengan bahagiamu. Bahagialah.

Apapun yang membuat kamu bahagia, katakanlah. Karena, jika aku memang bisa memberikannya kepadamu, aku akan berikan sepenuh hati.

Perempuanku, bukankah hidup selalu berjalan dengan segala petualangnya? Kenapa meski dikekang, dan dijangkarkan? Biarkan dia bebas dan bahagia. Harusnya diri ini bersyukur, karena sudah sampai titik ini. Titik terjauh aku kira. Sudah banyak musim dan fase hidup yang pernah kita jalani bersama, toh kita tetap bertahan. Lantas, kenapa aku meski mengekang kebahagiaan kamu.

Rawatlah, kenanglah dia yang menghuni sudut hati kamu yang tak pernah bisa aku temukan. Jika, disana kamu bisa menemukan kebahagiaan.

Terkadang, hari-hari melelahkan yang kita lalui bersama dengan sampan kecil ini, membuatmu putus asa dan marah, karena telah berbelok ke arah yang salah. Aku tahu, sebagai nakhoda, mungkin aku kurang pandai membawamu ke tempat yang engkau inginkan. Tapi percayalah, tak ada maksud ingin membuatmu tersesat.

Akan kulabuhkan sampan ini tak jauh darimu, jika sejenak kamu ingin mengunjungi dan mengenangnya, biar dengan mudah kamu bisa menemukanku kembali. Karena setelah itu, kita akan bersama lagi melawan arus dunia, hingga sampai pada tujuan yang pernah kita impikan.

Di atas sampan, akan aku senandungkan lagi puisi kita:

naiklah perahu ini, kekasihku

ada sebuah lampu, serta seorang penyair di dalamnya

akan menemani menjelajahi sudut semesta, inci demi inci

kekasihku, mari bentangkan layar

kita petik matahari, lewat tangga pelangi

menembus ombak demi ombak menuju rahasia pusat semesta

1 Comment

  1. Jimbo

    April 6, 2017 at 10:15 am

    I was really confused, and this answered all my qusnsioet.

Leave a Reply